Salam kenal, Red Banana disini o,ov gomen ne jika agak OOC,
dan masih banyak typo soalnya sudah lama tidak menulis. Enjoy ^_^b
“Yang namanya foto itu, adalah gambar yang dibuat dengan
kamera dan peralatan fotografi lainnya, yang mengrefleksikan memori kita
sebagai pengingat suatu kenangan”
.......
PHOTO
.......
Anak perempuan itu hanya berdengus kesal, bagaimana tidak?
Sejak tadi, dia belum menemukan objek yang bagus untuk fotonya. Dan kameranya?
Hanya menggantung indah dilehernya dengan manis. Cukup lelah, dia pun
beristirahat sejenak di bangku taman, hingga temannya yang bersurai pirang pun
menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Hei Yugii!! Bagaimana? Sudah dapat?”
“Belum Jonouchi-kun, bahkan aku tak tau apa yang harus
kujadikan objek.” , balas anak perempuan yang dketahui bernama Yugi itu
frustasi.
“Memangnya kau ingin tema yang seperti apa?”, Jonouchi pun mengistirahatkan dirinya
disamping Yugi.
“Aku belum tau, yang jelas bukan Vintage ataupun
klasik. Banyak yang mengambil yang
seperti itu. Kau sendiri sudah dapat?”
“Ah, bagaimana ya? Belum sih, tapi aku menemukan objek yang
bagus. Sudah ya.” Jonouchi pun pergi dengan semangat. Tampaknya dia sudah
menemukan objek yang bagus.
Yugi hanya menatap kepergian Jonouchi. Sebagai murid grade
tiga, dia harus melalui ujian praktek untuk lulus sekolah forografi dengan
nilai memuaskan dan keinginannya sih untuk mendapakan predikat tertinggi. Tapi
tampaknya itu tak mudah, saingannya cukup banyak namun itu tidak membuatnya
gentar. Ketika dia termenung, dia pun tak sengaja melihat sebuah kamera yang
cukup tua. Dia pun mengambilnya. Dan tepat ketika dia memegang kamera itu,
pohon sakura di depannya pun berguguran ditiup angin, secara refleks, dia pun
menggunakan kamera dan memotretnya. Namun, ketika membidik sasaran objek
fotonya, bukan hanya pohon itu yang terbidik, tetapi, tampak seorang pemuda
berwajah dingin dengan gaya yang benar-benar angkuh menatap ke arah kamera
seolah berkata ‘Stalker’. Yugi terkejut dan ‘ceklek’, tak sengaja memotret
pemuda itu.
“Wuaaaa!!! Si.....siapa kauu? Sejak kapan..kaau..? teriak Yugi.
“Aku?”
“Ya Kau! Siapalagi?”
“Yami”.
“Eh?”, Yugi pun memiringkan kepalanya bingung.
“Namaku” , sahutnya dengan nada angkuh.
“Bagaimana bisaaa...”
“Sejak tadi aku disini.”, dia pun menyilakan tangannya.”Kamera?
Fotografer?” liriknya.
“Ya, aku fotografer, lebih tepatnya calon sih.” , jawab Yugi
sambil menggaruk pipinya malu.
“Hati-hati dengan benda itu”, balasnya dengan nada monoton.
“Sebegitu menakutkannyakah benda ini? Kadang orang bilang
ini benda yang mengerikan, itu karena mereka tidak percaya diri. Dan menurutku
ini benda yang menarik, menghasilkan foto.“, jelasnya dengan mata berbinar.
“Seberapa pentingnya kah foto itu bagimu?”
“Penting, karena yang namanya foto itu, adalah gambar yang
dibuat dengan kamera dan peralatan fotografi lainnya, yang mengrefleksikan
memori kita sebagai pengingat suatu kenangan.”
“Apa harus dengan foto?”
Yugi terdiam, menatap pemuda itu bingung.
“Kau harus mendapat hukuman.” seringai pemuda itu
“APAAA?” , teriak Yugi. Jangan bilang pemuda di depannya ini
akan menghukumnya dengan aneh-aneh. Tapi dia tak terlihat mesum sih.
“Kau tau kan doppelganger? Kalau kau tidak menuruti
doppelgangermu maka kau akan mati.”
“A...A...aku tidak tau apa itu doppelganger.”
“Doppelganger itu adalah orang yang mirip denganmu, kita
mirip kan?”
“.........” , Yugi terdiam.
“Hukumannya, kau harus datang ke sini dan menyapu daun-daun
disekitar sini.”, katanya cuek.
“Heee? Itu kan salahmu yang menyempil-nyempil duluan.”
“Kau yang salah, tidak melihat-lihat dahulu. Stalker”
===
Sejak hari itu, Yugi selalu datang kesana untuk menyapu
daun-daun disekitar pohon itu. Sementara Yami? Hanya duduk diam dan menatap
Yugi dengan gayanya yang angkuh. Dalam beberapa hal, Yugi benar-benar kesal.
Kesal karena pengumpulan karyanya yang tinggal beberapa hari lagi dan tentu
saja kesal karena profesi mulanya yang seorang pelajar dari sekolah fotografi
menjadi tukang sapu. Namun, begitu melihat Yami, hatinya berdebar. Dan
diam-diam Yugi selalu memotretnya tanpa sepengetahuan orang itu.
“Haaaah..capek.”, Yugi mengistirahatkan dirinya disamping
Yami.
“Istirahatlah, terimakasih untuk hari ini.” Yami pun
tersenyum.
“Tapi aku kesal, kau sengaja ya menyuruh tukang kebunnya
tidak menyapu daerah ini.” Yugi pun menggembungkan pipinya.
“Tidak, tempat ini memang ditinggalkan, makanya dibiarkan
begitu saja.”
“Ditinggalkan?”
“Ya, kau tidak lihat? Disekitar sini saja ynag tidak ada
orang.” , balas Yami dengan nada monoton.
“Hm..padahal, tempat ini lumayan indah jika dijadikan objek
wisata, apalagi disana ada danau bukan?”
“Kau ini polos. Tak kusangka kau masih memegang kamera tua
itu.” Dia pun tertawa.
“Habis, kamera ini unik, aku yakin aku bisa menghasilkan
sesuatu yang bagus dengan kamera ini.”
“Benarkah?”, tanya Yami.
“Janganlah melihat dari luarnya, lihat saja hasilnya.
Hehehe.”
“Hm.....Apa tempat
ini sangat berarti bagimu Yami?” , tanya Yugi.
“Aku tidak tau, menurutmu?”,
tanyanya balik.
“Aku bertanya tau!!” balas Yugi.
“Dulu, ada seorang fotografer wanita yang tinggal di dekat
sini, dia sangat menyukai foto sepertimu.
“Lalu?”, tanya Yugi penasaran.
“Dia meninggal ditempat ini karena penyakit Leukimia.” Kata
Yami tampak sedih. “Dia mirip denganmu, Cuma dia tidak pendek dan mempunyai
tatapan yang tajam.”
“Benarkah?...Ng...maaf” Yugi pun menunduk
“Tak apa, yang penting sekarang aku senang bisa bertemu
denganmu.” Jawabnya tersenyum.
===
Sore harinya, Yugi menyiapkan peralatannya. Dia sudah
menemukan objek yang bagus untuknya. Dia menyiapkan berbagai lensa yang akan
dipakainya besok, menyiapkan berbagai peralatan pengatur cahaya, bahkan lampu
kecil untuk mencoba efek lain. Dan tiba-tiba, terdengarlah bunyi ketukan pintu
dari luar kamar kosnya.
‘Tok tok tok’
“Sebentar”, Yugi membukakan pintu.”Jonouchi? Ada apa? Ayo
masuk.”
“Terimakasih, Aku cuma ingin tau komentarmu tentang hasil
fotoku.”, kata Jonouchi riang sambil membuka amplop yang tampaknya berisi foto.
“Wah, sudah jadi? Haa? Ini adikmu Jonouchi-kun?”, Yugi
terlihat terbinar-binar melihat hasil karya Jonouchi.
“Iya, judulnya, My dearest Sister.” , balasnya semangat.
“Pfftt...”, Yugi cekikikan. Sensei of Naming Jonouchi memang
aneh. Tapi, Yugi akui, cara pengambilan sudut pandangnya sangat keren, apalagi
efeknya yang dibuat seperti foto Klasik dan ekspresi adik Jonouchi yang bisa dibilang
pas.
“Apanya yang lucu?”, Jonouchi cemberut.
“Tidak apa-apa, punyamu bagus.” Senyum Yugi.
“Yugi, kau bahkan belum memotret satupun kan? Tinggal dua
hari. Dan kau masih santai.”
“Hehehe, tenang saja. Aku sudah menemukan objek yang pas.”
“Semoga berhasil ya kawan!!” , Jonouchi pun memberi semangat
kepada Yugi.
===
Yugi pun datang ketempat itu, dia sudah memperkirakan waktu
yang tepat untuk mengambil fotonya. Setelah selesai menyapu, dia pun mengambil
semua peralatan fotografinya dan memposisikan dirinya untuk mengambil angle
yang tepat. Yami hanya menatapnya dengan bingung.
‘Cklek Cklek’
“Hei, Aibou. Sedang apa?”
“Ah, mengambil foto. O, iya besok aku izin ya, ini darurat,
besok adalah batas terakhir pengumpulan fotonya, apalagi sorenya pameran. Dan
sejak kapan kamu memanggilku Aibou?”
“Souka na, terserah aku lah memanggilmu apa.” Wajah Yami pun
memerah.
Dan tiba-tiba angin datang kembali dan menerbangkan
kelopak-kelopak sakura. Benar-benar indah, apalagi wajah Yami yang sedang memerah itu, benar-benar pas. Dia pun
segera mengambil foto Yami ‘cklek’ . Yugi berani bertaruh, ini benar-benar foto
dengan angle, pencahayaan dan posisi yang terbagus yang pernah difotonya. Dan
Yami akhirnya menyadarinya kalau Yugi mengambil fotonya.
“Aibouuu!!”, teriak Yami.
“Hehehe, sumimasen Mou hitori no boku, habisnya keren sih
posisimu.”
“Tapi....”, protesnya.
“Sudah sudah, aku kan cuma bercanda. Ng, Besok kau harus
datang ya. Di Museum Seni Domino. Tepatnya sih lantai tiga.”
“Baiklah, aku akan datang mungkin.” Jawab Yami.
“Aku akan menunggumu.”,
Yugi pun tersenyum manis.
===
Hari yang sangat cerah, Yugi segera menuju Museum Domino.
Dia hendak meyiapkan berbagai persiapan untuk pameran nanti. Senyum terkembang
diwajahnya yang imut itu, yang membuat orang disekitarnya blushing-blushing
tidak jelas. Sedangkan kamera tua yang ditemukannya waktu itu tergantung di
lehernya. Kerika menyebrang, seorang anak kecil yang keliatan mengejar mainan
dan hendak tertabrak oleh mobil. Yugi pun berlari, ingin menyelamatkan anak
itu.
“AWASSS DIIKK!!”
BRAKKK!!!!
Bunyi suara tabrakan terdengar keras, banyak orang yang
menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah kejadian. Tampaknya Yugi dan anak
itu selamat, hanya luka lecet, namun..
“Ah, kameranyaaaa!!” , Yugi pun menghampiri kameranya yang
terlempar. Pecah, dan sisi luarnya hancur.
Dia hanya terpaku segera berlari ke toko untuk memperbaiki kameranya, tersisa waktu dua jam lagi sebelum pameran.
Dia hanya terpaku segera berlari ke toko untuk memperbaiki kameranya, tersisa waktu dua jam lagi sebelum pameran.
Dia tidak peduli dengan rasa sakit di lukanya. Dia terus
berlari dan segera ke toko. Dan nasibnya sedang bagus, dia berhasil mencapai
toko itu.
“Maaaf...haah..haah...haah..”
“Yugi? Ada apa? Dan kenapa kamu penuh...”
“Kak Otogi, aku titip perbaiki kamera ini..”, Yugi pun
meletakkan kameranya. “Aku tidak punya banyak waktu, aku harus segera ke
pameran. Tolong ya.”
===
“Yugi!!! Kenapa kau terlambat?!! Dan penampilanmu,
astaga!!”, kata Anzu sambil mengobati luka Yugi.
“Iya Yugi, kamu ini
bikin khawatir aja deh!! Untung saja Honda telah memilihkan tempat dan telah
menggantung fotomu. Tapi tenang saja, kami belum membukanya.” Sahut Jonouchi.”
“Baiklah, terimakasih teman-teman.” , Yugi pun tersenyum.
“Aku harus segera melihat fotoku. Hehehe. Aku ke sana dulu.” Dia pun menuju
tempat fotonya digantung dan membuka karyanya yang ditutupi oleh kain.
Dan dia terkejut, kena fotonya tidak sesuai harapan.
Dan dia terkejut, kena fotonya tidak sesuai harapan.
“Seharusnya...seharusnya ada Yami disini.”, gumamnya.
“Ada apa Yugi?” , tanya Honda.
“Ah, Honda, ini...ng...aku rasa fotoku tertukar.”
“Tertukar? Oh, tadi Pegasus-sensei bilang ini punyamu.
Soalnya daftarnya kan udah ada dengannya.”
“ Tapi ini berbeda, ng..seharusnya bukan ini hasilnya.”
“Penjurian segera dimulai. Harap peserta ujian praktek
segera berdiri di depan karya-karyanya.” , speaker ruang utama pun berbunyi.
Yugi hanya bisa pasrah. Tampaknya hari ini adalah hari yang
cukup buruk, hampir tertabrak, kameranya hancur dan lagi hasil fotonya,
menurutnya tertukar. Dan dia berharap Yami akan datang untuk menemuinya walau
bukan hasil ini yang ingin diperlihatkannya.
“Wah, angle yang bagus Yugi girl, pencahayaannya bagus, tampaknya kau mengambil foto dengan efek campuran, disatu sisi ada sephianya, klasiknya juga dapat, dan Vintagenya? Ah, keren!”, komentar Pegasus-sensei.
“Ng, terimakasih sensei.”, katanya ragu.
Selesai penjurian, para pengunjung dapat melihat hasil karya
peserta ujian. Yugi membalas semua pengunjung dengan senyum khasnya. Dia terus
menunggu dan berharap Yami datang entah kenapa.
Dua jam, Tiga jam. Bahkan beberapa jam kemudian. Waktu terus
berputar, berbunyi dan berdentang hingga tak terasa malam pun tiba dan museum
akan segera ditutup. Tapi Yugi terus menunggu, hingga temannya pun
menghampirinya.
“Yugi, museum akan segera ditutup. Ayo pulang.”
“Tidak Jonouchi-kun, dia sudah berjanji untuk datang. Jadi
aku harus menunggunya.”, jawab Yugi polos.
“Tapi Yugi, ini sudah malam, tidak baik wanita malam-malam
sendirian disini.”, nasihat Anzu.
“Memangnya kau menunggu siapa sih?” tanya Honda.
“Aku..aku menunggu..Yami.”
‘Cring cring cring’
Yugi pun mengangkat teleponnya yang berdering.
“Yugi, Ini Kak Otogi, tampaknya kameramu tidak bisa
diperbaiki deh, alatnya terlalu tua, tak ditemukan dimana-mana nih.”
“Baiklah, Kak Otogi. Ng..tidak apa.”, balas Yugi sedikit
menahan tangis seraya mematikan teleponnya.
“Yugi.....”, Honda hanya menatapnya.
Yugi pun pergi, pergi menuju ketempat itu, menghiraukan
teriakan teman-temannya . Tempat pertemuan awalnya dengan Yami, tempat dia
tersenyum, bercanda, dan tempat dia bersedih. Dipikirannya sekarang hanya Yami.
Tidak memperdulikan lalu lalangnya orang, kendaraan dan semuanya. Hingga dia sampai
ketempat itu.
“Haaahh..haaahh..haaahh..” , dia terengah-engah. Sampai.
Namun hasilnya? Nihil. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada sebuah Pohon
Sakura, bangku taman dan lampu. Dia
tidak tau harus melakukan apa.
Dia pun meluapkan perasaannya hanya dengan air
mata. Hanya itu. Terpikir pertemuannya
dengan Yami. Ucapannya waktu itu.. Ya, ucapannya salah. Salah besar. Apa yang
bisa dilakukannya sekarang? Bahkan ketika dia megkonfirmasikannya dengan toko
cetak foto sekolahnya, itu benar-benar hasil karyanya. Yami tidak terabadikan
di foto. Harus dengan apa dia mengabadikan Yami?
“Haaahh..haaahh...Yu..Yugi...”, Teman-temannya pun
menghampirinya.
Yugi pun memeluk Anzu. “Anzu....dia...dia tidak ada...”
“Hah..Honda tadi sudah menghubungi Otogi, dan tampaknya,
Yami yang kamu maksud itu...kameramu itu ya? Nanti kita bisa membelikanmu yang
baru kok. Yang sama persis”
“Yami..? Kamera?”
“Nama kamera itu Yami, jenis TLR atau biasa disebut
Twins-lens Reflex, itu adalah kamera yang telah lama sekali dipakai oleh salah
satu fotografer terkenal. Namanya Atem. Kamera itu hilang, namun..akhirnya kamu
berhasil menemukannya ya.”, sahut Jonouchi.
“Jadi..jadi...”, Yugi pun tau. Yami adalah roh kamera itu.
Pantas gerak-geriknya aneh. mencurigakan, dan pantas saja, yang dimaksud
menunggunya itu...adalah, menunggu orang yang akan memakainya kah? Seorang
Partner? Yugi bahkan belum menyampaikan rasa terimakasihnya pada Yami. Oh, RA.
Hari ini adalah hari terburuknya.
“Aku tidak mau yang baru Anzu, meskipun rusak, biarkan aku
menyimpannya. Nanti, aku akan menjemputnya.“
“Yugi....”, Jonouchi terlihat khawatir.
Ternyata, Hati itu lebih hebat dari foto. Karena kenangan
selain dapat tercetak di hati kita , kita pun dapat merasakan kenangan itu.”
...
Gomen ne jika kurang bagus. RnR ya minna ^^ *bows* Fict ini di dedikasikan untuk teman RP saya
YamiYugi_AR . Hohoho, terinspirasi ketika Yami pacaran di TL(?) #woy. Saya
menerima kripik #plak maksudnya kritik dan saran anda. Hehehe. Jaa naa. Chu~