Info:
Eren:17 tahun
Rivaille:19 tahun
Jean: 17 tahun
.........................................................................................
STILL BELIEVE YOU
Menunggu di halte memang
menyebalkan. Begitulah yang Eren rasakan sekarang. Kenapa sih “dia” begitu
maniak kebersihan? Sampai-sampai, hanya karena Eren main sepakbola sehingga
tubuhnya penuh keringat dan lumput, dia
pun ditinggal. Kata Rivaille, dia tidak mau mengotori dirinya. Rivaille adalah
kakak kelas yang cukup dekat dengan Eren. Namun, meski hubungan mereka begitu,
Rivaille tetap saja punya sisi sadis.
Sambil misuh-misuh
sendiri, Eren pun menunggu di halte ini. Kenapa sih lama sekali? Sambil
mondar-mandir, dia pun tidak sengaja menginjak kaki seseorang yang cukup tinggi
darinya. Orang itu menatapnya tajam.
“Oi, bocah! Matamu kemana hah? Sudah kotor,
bau lagi.”
Sedikit terkejut dengan ucapan orang itu, Eren yang
mengurungkan niatnya untuk minta maaf.
“ Siapa yang kau bilang kotor dan bau
ha?”
“Ya, kau. Siapa lagi?”, tatap Jean
dengan
“Aku tidak sengaja, dan asal kau tau
ya, JEAN KIRSCHTEINN, aku tidak pernah
berniat mencari masalah denganmu!! Kau yang selalu menggangguku.”
Jean Kirschtein, salah satu teman sekelasnya dan juga satu eskul dengannya. Meskipun sekelas dan satu eskul,
mereka selalu bertengkar dimanapun dan kapanpun.Contohnya ya sekarang ini.
Asyik bertengkar, mereka pun melirik bus yang datang.
“AKU
DULUAAANNN!! MINGGIRR!!”
“AKU
YANG DULUAN. MINGGIR KAU JEAN!!”
“KAU
YANG MINGGIR!”
“KALIAN
BERDUA, JADI NAIK ATAU TIDAAK?” Petugas pun meneriaki mereka.
“Ha’i.”
Jawab mereka.
.........................................................................................
Di bus, mereka duduk bersebelahan karena bangkunya sudah
terisi. Mereka hanya duduk dalam diam, hingga Jean pun menginterupsi keheningan
itu.
“E..Eren....”, panggil Jean dengan nada lembut.
“Nani?”, balas Eren malas.
Jean pun memberikan tissu
serta baju ganti untuk Eren, meski tidak menatapnya secara langsung. Rasanya
Eren ingin tertawa. Namun, kalau ditertawakan, jarang-jarang kan seorang Jean
seperti ini terhadapnya? Eren pun mengambil baju ganti dan tissu, lalu dia
membersihkan tubuhnya dan memakai baju itu.
“Maaf, aku hanya bisa mempercayakan team nya padamu, kalau
bukan karena kau, mungkin saja kita kalah.” Jean pun menunduk.
“Tidak apa, bukan salahmu. Cedera kemarin itu sangat fatal
bukan? Untung saja bisa di tangani.”
“Tapi, tetap saja. Aku hanya bisa mempercayakan semuanya
padamu sekarang, team, teman, dan lainnya.”
Mendengar ucapan Jean, Eren merasa
dejavu. Entah kenapa dan sejak kapan, Jean juga pernah mempercayakan sesuatu
padanya dulu. Tapi Eren lupa, Jean mempercayakan apa. Sebegitu percayanya kah
Jean terhadapnya?
“Tentu saja, percayakan padaku.” Eren pun tersenyum.
“Berusahalah untuk sembuh.”
.........................................................................................
Eren pun tidak bisa
berhenti melangkah untuk ke halte bus itu. Lagi? Ayolah, dia hanya ingin
mengembalikan baju yang dipinjami Jean kemarin. Tapi, hanya demi itukah Eren
menolak ajakan pulang bersama dengan Rivaille?
Dia menatap jam tangannya
dengan risih. Seharusnya, jam segini Jean sudah disini. Kenapa dia tidak datang
ya?
“Menungguku ya, heh?”
Eren kaget karena Jean
mengagetkan dirinya. Yang mengagetkan hanya tersenyum meremehkan.
“Siapa yang menunggumu
ha? Aku hanya ingin mengembalikan ini. Nih, ambil.”
“Begitukah cara mengembalikan baju yang baik dan benar?”
“Cih, sesukamu saja.”
“Bus nya sudah datang tuh. Ayo kecebong.”
“KAU YANG KUDA!!”
.........................................................................................
Esoknya pun, Eren kembali menuju halte itu lagi. Sebegitu ketagihannya
kah dia dengan halte itu? Atau dia..hanya tertarik dengan Jean? Bukankah Eren
sudah memiliki Rivaille? Hati Eren benar-benar berkecamuk sekarang. Namun, dia
tepis pikiran tentang Jean itu. Eren hanya tetap menunggu disini. Dan sekali lagi Jean datang.
“Eren....”, panggil Jean seraya tersenyum.
“Eh?
Jean..? Mana tatapan meremehkanmu?”
Ucapan Eren terpotong dengan datangnya bus. Mereka pun masuk kedalam
bus dalam diam, sehingga membuat petugas bus nya terkaget-kaget.
“Doushite?”
, tanya Eren.
“Nandemonai.
Hanya saja....sepertinya aku tidak bisa menjadi pemain lagi.”, tukas Jean.
“Kenapa?”
“Cederaku,
katanya makin parah. Kesalahanku sih mengabaikan nasehat dokter. Aku...tidak
ingin kalah darimu.”
“Jadi
kau latihan ketika cedera ha?”
Jean
tidak menjawab.
Eren
menarik kerah seragam Jean.”Bukankah kau bilang sendiri, kau ingin menang?
Kenapa kau begitu ceroboh? Sejujurnya..aku mengkhawatirkanmu.”
“Aku...
tidak ingin tertinggal darimu. Setidaknya, aku ingin melakukan sesuatu. Duduk
diam begitu tidak menyelesaikan masalah. “
“DAN
SEKARANG APA YANG BISA KAU LAKUKAN HA?”
“Yang
bisa kulakukan...Hanya mempercayaimu sepenuhnya.Tidak sementara. Tapi aku
percayakan semua yang ada di tim kita. Dan... jangan kecewakan aku, Eren...”
“Jean....”
“Aku
yakin. Kau mampu mengubah tim kita.Karena, aku merasa pernah mempercayakan
sesuatu yang sangat penting. Aku lupa apa itu, tetapi kau membuktikan kalau kau
mampu padaku. Dan satu lagi. Aku akan mencoba untuk sembuh.”
“Jean...Aku,
aku janji tidak akan mengecewakanmu. PASTII!!”
“Dan
kurasa kau harus mengecilkan volumemu. Kau bahkan berteriak disaat hening
begini. Merusak suasana saja.”
“Etto...”
Eren pun duduk kembali.
“Kebiasaan.”
“Aku
heran, kenapa kau sangat suka naik bus?”
Jean
mengalihkan pandangannya dari jendela bus disampingnya, “Mungkin karena aku
menyukai suasananya. Ramai. Dan kau, kenapa menolak ajakan pulang kakak kelas
cebol itu?”
“Huh,
aku yakin kalau dia mendengar ini, nanti kau akan tubuhmu dibuatnya menjadi 10
bagian.”, gerutu Eren. “Aku menolaknya ya, karena aku suka naik bus.”, jawab
Eren asal.
“Heh?
Aku tidak pernah tuh melihatmu naik bus selama ini. Apa kau di hukum ayahmu?”
“Tentu
saja tidak baka.”
“Lalu?”,
tanya Jean.
“Ya,
aku naik karena aku suka.”
“Begitu
ya. Bagaimana hubunganmu dengan Rivaille-senpai?”
“Kenapa
kau bertanya?”
“Apa
salahnya? Kau yakin tidak dihantuinya karena kau memilih naik bus bersama orang
lain.”
“Orang
lain?”, Eren memiringkan kepalanya.
“Kau
ini lemot juga ya.”
“Eh,
Kau kan bukan orang lain. Kau itu sahabatku tau!”, teriak Eren.
“Ya,
sahabat ya...” , gumam Jean pelan.
“Jean....bagaimana
dengan Armin?”
“Armin
dalam keadaan sehat, tidak kekurangan sesuatu apapun.”
“AKU
JUGA TAU ARMIN SEHAT!! MAKSUDNYA BAGAIMANA HUBUNGAN KAU DENGANNYA? KAU INI
LEMOT!”
“KAU
YANG PERTANYAAN NYA GAK JELAS. MANA AKU TAU.”
“SSSTTTTTTTTTTTT!!!”,
orang-orang di bus itu pun menegur mereka.
“Ini
semua gara-gara kau, bocah!”
“Ini
gara-gara kau tau! Menjawabnya kayak gitu”
“Pertanyaanmu
itu yang gak jelas.”
“Gomen.”
“Eh?”,
Jean kaget. “Kenapa minta maaf?”
“Tidak
apa.”
“Eren,
aku kok yang salah sudah berteriak padamu. Dan...”
“Dan
apa?”
“Mau
tidak menemaniku untuk terapi besok? Aku tunggu di halte tadi. Tapi kalau kau
terlambat, kau akan kuhukum.”
“Kan
kau yang membuatku menunggu terus.”
“Hei,
pokoknya setelah sembuh, Ayo bertarung bersama kembali. Aku akan mengejarmu.”
“Tentu
saja.”
Mereka
pun saling mengaitkan tangan mereka.
.........................................................................................
HBD
YA NUNUTTTTTTTT..HBD YA NUNUTT...HBD YA HBD YA HDB YA NUNUT!! BUAT NUNUTT,
Semoga sukses, sehat dan selalu diberkahi rahmat. Gomen kalo ceritanya kurang
bagus. Sukses buat NUNUTTTTT alias poIn alias Fujisaki Fuunnn!!! Gara-gara dia
diriku menjejakkan kaki di fandom ini. Diriku sedang dalam masa-masa UTS.
Hohoho. Tanggal ultahmu hari berkabung mahasiswa dan siswa nut. *tossu ama
kuas*
Dan
sebelumnya terimakasih buat Gia-XY dan Psycho Childish. ^_^
Revieew~
No comments:
Post a Comment